
Psikiater: Puasa Itu Latihan “Otot” Sabar Di Dalam Otak
Psikiater: Puasa Itu Latihan “Otot” Sabar Di Dalam Otak Yang Membantu Kalian Belajar Menahan Amarah Dan Mengontrolnya. Banyak orang memaknai puasa sebatas menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Padahal, menurut sejumlah Psikiater, puasa jauh lebih kompleks dari itu. Di balik ibadah ini, ada proses psikologis yang bekerja aktif di dalam otak. Terutama dalam melatih kesabaran dan pengendalian diri. Secara ilmiah, ketika seseorang berpuasa, ia sedang menunda dorongan biologis paling dasar: makan dan minum. Proses menunda inilah yang dalam Psikiater disebut sebagai delayed gratification.
Atau kemampuan menahan kepuasan sesaat demi tujuan yang lebih besar. Kemampuan ini berhubungan erat dengan fungsi otak bagian prefrontal cortex. Tentunya yakni area yang mengatur kontrol diri, pengambilan keputusan, dan regulasi emosi. Karena itu, tidak berlebihan jika ada psikiater yang menyebut puasa sebagai latihan “otot sabar” di dalam otak. Layaknya otot tubuh yang menguat saat rutin di latih. Maka kemampuan sabar dan pengendalian diri juga semakin kuat ketika di asah secara konsisten selama bulan Ramadhan.
Bagaimana Puasa Melatih “Otot” Sabar?
Bagaimana Puasa Melatih “Otot” Sabar juga pasti banyak dari kalian yang mempertanyakan. Secara bertahap, puasa mengajarkan tubuh dan pikiran untuk tidak selalu mengikuti impuls. Ketika rasa lapar datang di siang hari, otak sebenarnya menerima sinyal kuat untuk segera mencari makanan. Namun, individu yang berpuasa memilih untuk menahan dorongan tersebut. Di sinilah latihan mental terjadi. Setiap kali seseorang berhasil menahan emosi, menunda makan, atau meredam amarah saat kondisi fisik sedang lemah. Dan jalur saraf yang berkaitan dengan kontrol diri semakin di perkuat. Psikiater menjelaskan bahwa kebiasaan ini membantu meningkatkan self-regulation.
Tentunya yaitu kemampuan mengatur respons terhadap stres dan tekanan. Selain itu, puasa juga melatih kesabaran dalam konteks sosial. Misalnya, ketika menghadapi kemacetan menjelang berbuka atau menghadapi rekan kerja yang memancing emosi. Jika seseorang mampu tetap tenang, berarti ia sedang memperkuat “otot sabar” tersebut. Menariknya lagi, latihan ini tidak hanya berdampak pada aspek spiritual, tetapi juga pada kesehatan mental secara umum. Individu yang terbiasa menunda impuls cenderung memiliki pengambilan keputusan yang lebih rasional dan tidak mudah terbawa emosi.
Dampak Puasa Terhadap Emosi Dan Kesehatan Mental
Lebih jauh lagi, Dampak Puasa Terhadap Emosi Dan Kesehatan Mental. Saat berpuasa, kadar hormon stres seperti kortisol bisa lebih terkendali jika individu menjalani puasa dengan pola tidur dan pola makan yang baik. Kondisi ini membantu menjaga stabilitas emosi sepanjang hari. Transisi dari kondisi lapar menuju berbuka juga menciptakan momen refleksi. Banyak orang merasa lebih tenang dan introspektif selama bulan puasa. Secara psikologis, ini merupakan kesempatan bagi otak untuk memperlambat ritme dan memberi ruang pada kesadaran diri.
Namun demikian, penting untuk di pahami bahwa efek positif ini sangat bergantung pada cara seseorang menjalani puasanya. Jika kurang tidur, dehidrasi berlebihan. Atau stres tidak di kelola dengan baik, emosi justru bisa menjadi lebih sensitif. Oleh sebab itu, keseimbangan antara ibadah, istirahat, dan nutrisi tetap perlu di jaga. Ahlinya juga menekankan bahwa puasa dapat menjadi sarana terapi pengendalian amarah. Ketika seseorang sadar bahwa ia sedang menjalankan ibadah. Dan ia cenderung lebih berhati-hati dalam bertindak dan berbicara. Kesadaran ini membantu memperkuat koneksi antara nilai spiritual dan kontrol emosi.
Konsistensi: Kunci Menguatkan “Otot” Sabar
Seperti latihan fisik, Konsistensi: Kunci Menguatkan “Otot” Sabar juga berlaku di sini. Puasa yang dijalani selama sebulan penuh memberikan kesempatan berulang untuk melatih kesabaran setiap hari. Dari menahan lapar, mengontrol ucapan, hingga mengelola konflik. Maka semua menjadi bagian dari proses penguatan mental. Setelah Ramadhan berakhir, tantangan sesungguhnya adalah mempertahankan kebiasaan baik tersebut. Jika latihan sabar ini di terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Baik di rumah, tempat kerja, maupun lingkungan sosial. Maka manfaatnya akan terasa jangka panjang. Dengan demikian, pernyataan psikiater bahwa puasa adalah latihan “otot sabar” di dalam otak bukan sekadar kiasan. Ada proses biologis dan psikologis nyata yang terjadi. Ketika seseorang konsisten menahan diri dan mengelola emosinya menurut Psikiater.