Sindrom Mantan Wartawan: Ketika Ego Tak Sesuai Realita

Sindrom Mantan Wartawan: Ketika Ego Tak Sesuai Realita

Sindrom Mantan Wartawan: Ketika Ego Tak Sesuai Realita Dari Yang Dahulunya Berkuasa Namun Sekarang Berkurang. Dunia jurnalistik di kenal keras, cepat, dan penuh tekanan. Dan di balik profesi yang sering di pandang idealis dan bergengsi. Tentu ada realitas lain yang jarang di bahas: fase setelah seseorang meninggalkan dunia wartawan. Tidak sedikit mantan jurnalis yang justru mengalami kegelisahan batin, konflik identitas. Terlebihnya hingga benturan ego dengan kenyataan baru. Fenomena inilah yang kerap disebut sebagai “Sindrom Mantan Wartawan.” Sindrom Mantan Wartawan ini bukan istilah medis. Namun melainkan gambaran sosial-psikologis tentang kondisi ketika seseorang sulit melepaskan identitas lama sebagai wartawan. Ketika sorotan, pengaruh, dan rasa “penting” tak lagi menyertainya. Maka realita baru terasa tidak ramah. Berikut tiga fakta utama yang menjelaskan mengapa sindrom ini kerap muncul. Dan bagaimana dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Identitas Profesi Yang Terlalu Melekat

Fakta pertamanya adalah Identitas Profesi Yang Terlalu Melekat. Selama bertahun-tahun, wartawan terbiasa berada di pusat informasi, mengajukan pertanyaan kritis, bahkan “mengetuk” pintu kekuasaan. Peran ini perlahan membentuk rasa identitas: merasa relevan. Dan di butuhkan, dan memiliki otoritas moral. Masalah muncul ketika profesi itu di tinggalkan. Transisi ke dunia lain baik ke humas, bisnis, politik, atau bahkan pekerjaan non-media. Kemudian yang membuat sebagian mantan wartawan merasa kehilangan “nilai diri”. Mereka tidak lagi menjadi pusat perhatian atau pengambil narasi. Akibatnya, muncul dorongan untuk terus menunjukkan bahwa dirinya masih lebih tahu, lebih kritis. Atau lebih unggul di banding lingkungan barunya. Di sinilah ego mulai berbenturan dengan realita. Dunia di luar jurnalistik memiliki aturan, ritme, dan hierarki yang berbeda. Ketika identitas lama tak lagi relevan. Maka konflik batin pun tak terhindarkan jika tidak di sadari sejak awal.

Pola Pikir Kritis Yang Tak Selalu Di Butuhkan

Fakta kedua berkaitan dengan Pola Pikir Kritis Yang Tak Selalu Di Butuhkan. Mereka di latih untuk skeptis, mempertanyakan segala hal, dan mencari celah dalam setiap pernyataan. Dalam dunia jurnalistik, sikap ini adalah kekuatan. Namun di luar redaksi, pola pikir tersebut tidak selalu di terima dengan baik. Banyak mantan wartawan terjebak pada kebiasaan “menguliti” segala situasi. Bahkan dalam konteks yang tidak memerlukannya. Akibatnya, mereka kerap di anggap sinis, sulit bekerja sama, atau merasa paling benar. Padahal, dunia profesional lain sering menuntut kompromi. Kemudian dengan empati, dan kerja tim yang lebih fleksibel. Transisi ini menjadi tantangan besar. Ketika cara berpikir lama terus di paksakan, muncul rasa frustrasi. Karena lingkungan tidak merespons seperti yang di harapkan. Di titik inilah ego kembali terusik: merasa tidak di hargai. Padahal sebenarnya konteksnya sudah berubah.

Ekspektasi Sosial Yang Tak Lagi Sejalan

Fakta ketiga datang dari Ekspektasi Sosial Yang Tak Lagi Sejalan. Menjadi wartawan sering kali memberi status tertentu di mata publik. Akses informasi, jaringan luas, dan citra “orang dalam” membuat sebagian jurnalis merasa memiliki posisi istimewa. Ketika status itu hilang, realita sosial berubah drastis. Banyak mantan wartawan merasa orang lain tidak lagi mendengarkan atau menghargai pendapat mereka seperti dulu. Hal ini bisa memicu sikap defensif, nostalgia berlebihan. Bahkan kecenderungan meremehkan profesi lain. Padahal, setiap bidang memiliki tantangan dan keahlian masing-masing.

Psikolog melihat kondisi ini sebagai krisis penyesuaian. Bukan kehilangan profesinya yang menjadi masalah utama, melainkan ketidakmampuan menata ulang ekspektasi diri terhadap dunia. Tanpa refleksi, seseorang bisa terjebak dalam masa lalu dan sulit berkembang. hal ini adalah potret benturan antara ego dan realita. Identitas yang terlalu melekat, pola pikir yang sulit di sesuaikan. Serta ekspektasi sosial yang berubah menjadi pemicu utama kegelisahan ini. Namun, hal ini bukan akhir dari segalanya dari istilah Sindrom Mantan Wartawan.